Coretan Tanganku

[Lupa Lagi] Selamat Ulang Tahun

65fcc3f9edc4bbbc18092ded407960e6

 

SELAMAT ULANG TAHUN

090206 / 170206

 

#SelamatUlangTahunKe8 untuk blogku yang telah mengisi duniaku. Tanggal 6 Februari merupakan hari ulang tahun blogku. Dan seperti 2 tahun yang lalu aku selalu lupa.

Aku minta maaf karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk blogku ini. Semoga tahun ini aku semakin banyak membagikan cerita-ceritaku untuk semua orang yang sudah singgah kesini dan menyempatkan membaca. Semoga apa yang aku tulis nantinya juga bisa memberikan manfaat dan inspirasi untuk semua orang.

Sekali lagi terima kasih untuk semua para pengunjung blogku.

 

 

 

Iklan
Fanfiction

Kau (Sebuah Cerita Tentangmu)

k

© :http://whiteandblack22.wordpress.com @blackid22

Title : Kau (Sebuah Cerita Tentangmu) || Main Cast : Daniella Han (OC), Aiden Lee, Spancer Lee || Genre : Angst – Romance

 

Quote  :

“Kau yang tak akan pernah kembali lagi. Namun, kau akan selalu abadi dalam hati dan pikiranku.”


Sebelumnya : https://oi20.wordpress.com/2014/11/16/karena-seperti-itulah-cinta/

Sudah seminggu berlalu sejak meninggalnya Danie, namun suasana kantor terasa suram, masih berduka karena kehilangan seseorang yang selalu menawarkan keceriaan bagi siapa saja dalam hidupnya. Tak ada semangat untuk bekerja. Namun kesuraman itu terusik oleh suara sepatu yang siapapun sudah tahu siapa pemiliknya. Dengan wajah yang datar dan dingin, pria itu memasuki ruang kerjanya dengan penuh wibawa, membuat para karyawan hanya bisa diam, tak berkutik. Hanya memandangi sosok itu hingga hilang dari balik pintu.

“Huh! Bagaimana bisa orang itu masih bisa memikirkan pekerjaan setelah apa yang terjadi pada Danie. Seharusnya dia yang paling bertanggung jawab atas kematian Danie itu,” gerutu salah satu karyawati yang kecewa melihat sikap pimpinan mereka.

“Hei, sudahlah. Kau tak boleh mencela direktur seperti itu,” bela karyawan yang lainnya.

“Iya. Tuan Lee itu direktur kita. Beliau sangat sibuk memikirkan perusahaan dan karyawannya.”

“Justru aku merasa Tuan Lee lebih sedih dari yang kita kira. Jadi, beliau memilih menyibukkan dirinya dengan bekerja.”

Suasana gaduh pun kembali terdengar karena ocehan para karyawan tentang sikap pimpinan mereka. Hingga terdengar dehaman dari arah belakang mereka yang berhasil membuat mereka terbungkam.

“Ehm. Apakah sekarang sudah waktunya jam istirahat?” tanya seseorang yang berhasil membuat para karyawan terdiam. Salah seorang karyawan mencoba memberanikan diri menoleh ke arah sumber suara, dan nampaklah Spancer, wakil direktur mereka sekaligus sahabat baik Aiden, direktur mereka yang sedang mereka perbincangkan.

“Tuan Spancer,” sapa karyawan tadi kepada salah satu pimpinan perusahaan mereka.

“Kalian disini digaji untuk bekerja, bukan untuk bergosip. Paham?” sindir Spancer kepada karyawan-karyawan yang sedari tadi berceloteh.

“Paham, Tuan Spancer,” jawab serentak para karyawan atas sindiran Spancer.

“Jadi, tunggu apalagi? Kembali ke tempat kalian dan segera bekerja.”

Tanpa menunggu sindiran untuk yang kedua kalinya dari Spancer, para karyawan itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Spancer pun meninggalkan mereka menuju ke ruangan direktur. Sebagai basa basi, Spancer mengetuk pintu ruang kerja Aiden yang di sambut oleh jawaban dari dalam ruangan tersebut.

“Masuk.”

Spancer menampakkan diri dan menutup pintu ruangan itu kembali. Tidak langsung menghampiri Aiden, Spancer memilih menghampiri sofa di ruangan itu sambil menatap sekeliling ruangan tersebut. Seperti ada sesuatu yang hilang di ruangan itu. Aiden yang masih sibuk dengan dokumen-dokumen di mejanya menyempatkan memandang ke arah Spancer.

“Mau susu?” tawar Aiden membuyarkan lamunan Spancer.

“Boleh. Rasa strawberry,” jawab Spancer.

“OK.”

Karena sudah tidak fokus lagi dengan pekerjaannya, Aiden memilih membereskan lembaran kerja di mejanya. Aiden lalu beranjak dari kursinya menuju kulkas di sebelah rak lemari kerjanya yang tampak menjulang tinggi. Aiden pun bergabung dengan Spancer yang memilih duduk berseberangan sambil ikut memandangi sekeliling ruang kerjanya.

“Para karyawan sedang menggosipkan dirimu.”

Spancer membuka pembicaraan terlebih dahulu sambil menikmati susu yang di tawarkan Aiden. Sedangkan Aiden belum berniat membuka suaranya, malah memilih menghabiskan minumannya terlebih dahulu sekali teguk.

“Biarkan saja.” Khas Aiden yang selalu bersikap cuek.

“Kau belum bisa merelakan kepergian Danie?” Spancer kembali bertanya tentang pertanyaan yang sebenarnya jawabannya sudah pasti dia tahu.

“Bukankah kau sudah pasti tahu jawabannya?” Aiden malah berbalik bertanya kepada Spancer yang hanya di jawab dengan anggukan kepala.

“Setiap kali aku memasuki ruanganku, mataku selalu menatap ke arah pintu. Berharap bahwa dari sana Danie akan muncul mengagetkanku seperti biasanya. Berceloteh tanpa aku minta dan tanpa tahu kapan dia akan diam. Membawakan makanan untukku dan memaksaku menghabiskan makanan yang dia bawa yang entah kenapa selalu aku habiskan. Bayangan tentang dirinya tak akan bisa aku hapus dari ingatanku. Aku tak akan mengelak jika kau mengatakan bahwa aku merindukannya. Aku akan menjawab dengan tegas. Ya, aku bahkan sangat merindukannya. Sangat-sangat merindukannya dan membuatku selalu menangis menyesali semuanya karena keterlambatanku yang telah menyia-nyiakan dirinya yang dengan tulus mencintaiku.”

Aiden mengusap wajahnya dengan kasar. Setiap kali mengingat Danie, Aiden selalu meneteskan air matanya. Spancer pun mencoba menenangkan Aiden dengan menepuk-nepuk punggung Aiden.

“Kau tak perlu melupakan atau menghapus bayang-bayang tentangnya. Biarkan saja itu menjadi kenanganmu tentangnya. Kau hanya perlu bangkit dan melanjutkan hidupmu sekarang ini.”

“Aku akan mencobanya. Dan terima kasih untuk semua nasehatmu.”

“Aku akan selalu menasehatimu untuk kebaikanmu. Kalau begitu aku permisi dulu. Aku ada janji dengan klien kita. Terima kasih juga untuk minuman gratisnya. ”

Setelah Spancer pamit dan keluar dari ruangan Aiden, Aiden pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, memeriksa tumpukan dokumen yang ada di atas meja kerjanya untuk di tandatangani.

Tanpa terasa hari sudah mulai gelap, Aiden masih betah berlama-lama di ruang kerjanya. Padahal, para karyawannya sudah pulang dua jam yang lalu. Aiden tak sengaja menoleh ke arah jendela, seperti terkejut bahwa hari sudah sore dan dia tak menyadarinya.

“Sudah sore? Aku bahkan tak menyadarinya. Pantas saja di luar sudah sepi.”

Aiden berbicara pada dirinya sendiri. Aiden pun merapikan meja kerjanya. Segera bergegas untuk pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Saat hendak menutup pintu, Aiden seperti teringat sesuatu. Kemudian berbalik menuju rak lemari kerjanya. Mengambil berkas yang hampir dia lupakan. Saat menemukan berkas yang di maksudkan, tiba-tiba sebuah benda terjatuh. Aiden mengambil benda yang terjatuh itu yang ternyata adalah sebuah amplop putih. Aiden membalikkan amplop itu, tertulis sebuah nama yang membuat jantungnya berdebar-debar. Aiden ingin sekali membuka amplop tersebut namun segera di urungkan karena dia harus segera pulang, tak ingin membuat ibunya cemas. Aiden pun membiarkan amplop itu pulang bersamanya dan akan dibaca nanti di rumah.

Untuk kekasihku, Aiden Lee

Sesampainya di rumah, Aiden disambut oleh celotehan ibunya yang mengkhawatirkan keadaan Aiden. Setelah memberikan pengertian kepada ibunya, dia pun langsung menuju kamar pribadinya. Saat ini Aiden tidak ingin diganggu. Akhirnya, berendam menjadi salah satu cara yang efektif baginya saat ini. Setelah selesai berendam dan membersihkan badannya, rasa lelah karena seharian bekerja pun tidak dia rasakan lagi. Aiden merebahkan diri di ranjangnya sambil menutup matanya. Tiba-tiba, matanya terbuka seperti mengingat sesuatu. Dengan tergesa-gesa, Aiden mengambil map yang berisi berkas-berkas yang sempat dibawa dari kantor. Namun, bukan berkas-berkas itu yang dia ambil. Amplop putih yang dia temukan tadi di kantorlah yang dia keluarkan dari map itu.

Sambil menuju ranjangnya kembali, Aiden membuka amplop tersebut. Sebuah surat yang di tujukan untuknya. Sebuah nama yang sangat dia rindukan akhir-akhir ini. Dia pun mulai membaca surat tersebut.



Seoul, 12 November 2014

 

Apa kabar Aiden Lee, kekasihku? 

Kekasihku?

Terdengar aneh ya? Hanya untuk menyenangkan diri sendiri, tak apa, kan? Karena hanya aku yang menganggapmu kekasih, sedangkan kau tidak. Tapi biarlah, aku akan selalu menganggapmu kekasihku sampai kapanpun.

 

Aiden Lee, saat kau menemukan surat ini, artinya kau tak akan menemukan dan melihatku lagi di dunia ini. Aku minta maaf karena telah mengganggu kehidupanmu selama ini. Aku tahu kau tak menginginkan kunjungan dan ocehanku. Jadi, ijinkan aku untuk terakhir kalinya mengganggu hidupmu sebelum akhirnya aku benar-benar harus pergi untuk selamanya.

 

Aiden, kau pasti heran mengapa aku menulis sebuah surat untukmu. Aku sendiri pun tak tahu. Namun, sudah dua minggu ini, aku bermimpi buruk. Aku seperti diikuti oleh bayangan hitam yang menyeramkan dan membuatku ketakutan. Setap kali aku berusaha melarikan diri, bayangan itu selalu mengikutiku. Berlari sejauh mungkin dari kejaran bayangan itu. Tapi, tetap saja bayangan itu mengejarku dimanapun aku berada. Hingga akhirnya aku tak bisa melarikan diri lagi.

 

Kau tahu bayangan hitam itu kemudian membisikkan sesuatu padaku. “Kau akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu.” Aku tak mengerti maksud perkataannya. Kemudian bayangan itu melanjutkan perkataannya lagi. “Sahabat atau cinta. Kau harus memilih diantara dua pilihan itu. Kau dihadapkan pada sesuatu yang bisa membuat hancur sebuah persahabatan atau melepaskan cintamu yang belum tentu itu akan menjadi cinta bagimu.”

 

Aku semakin bertambah bingung dengan penjelasan dari bayangan hitam itu. “Kau pasti bingung. Selama ini sebenarnya apa kau tidak lelah mengejar seseorang yang tak pernah menyadari keberadaanmu? Lebih baik kau lepaskan atau kau hanya membuat persahabatan dari orang yang kau cintai hancur.” Setelah itu bayangan hitam itu hilang dari hadapanku. Tapi, perkataannya masih terngiang-ngiang di pikiranku. Hingga pada akhirnya aku mengerti apa maksud dari perkataan bayangan hitam itu.

 

Suatu ketika, aku berdiri di sebuah tebing yang sangat curam. Dan disana aku sudah menemukan jawaban yang aku cari. Aku menutup mataku dan menjatuhkan diriku ke jurang yang sangat dalam. Lalu bayangan hitam itu kembali bertanya, “Apa jawaban yang kau pilih hingga memutuskan dirimu menjatuhkan diri ke jurang?” Aku menjawab, “Aku sadar bahwa selama ini aku telah membuat orang lain menderita karena ulahku yang berusaha mengejar cintaku yang tak terbalas. Aku tak bisa menyakiti orang lain lagi karena keegoisanku. Lebih baik aku yang berhenti mengejar cintaku karena aku tahu bahwa dalam hatinya tak pernah ada aku. Aku memutuskan untuk melepaskannya dan berharap dirinya menemukan cinta sejatinya. Aku rela jika harus mengorbankan diriku asalkan dirinya bahagia.”

Aiden, entah kenapa aku sangat merindukan saat pertemuan kita dulu. Apa kau masih mengingatnya? Akhir-akhir ini aku jadi banyak berpikir, apakah ini memang rencana Tuhan mempertemukan aku denganmu?

 

Aku, seorang gadis yang terlalu sering dikhianati oleh para pria karena hanya dimanfaatkan saja oleh pria-pria yang mengobralkan kata cintanya itu untuk bisa menikmati tubuh gadis itu dan  mengeruk habis harta kekayaannya. Setelah itu dibuang bagaikan sampah.

 

Sedangkan kau, pria angkuh dan sombong yang tak mengenal apa itu cinta tetapi  mempunyai hati yang baik. Kau bahkan telah menyelamatkan masa depan gadis itu dari sesuatu yang mengerikan dalam hidup gadis itu. Setelah dikhianati, hampir saja akan diperkosa jika kau tak datang menolongku saat itu. Aku sungguh bersyukur bahwa telah dipertemukan denganmu. Dan setelah itu, dengan tidak tahu malu, gadis itu malah meneror pria tersebut dengan masuk ke kehidupan pria yang belum lama dikenalnya itu.

 

Cinta memang seperti itu. Datang secara tiba-tiba dalam kehidupan seseorang. Tapi, aku tak akan menyerah sampai kau jatuh cinta padaku, atau kalau tidak, aku ingin melihatmu tersenyum bahagia dengan cinta sejatimu.

 

Saat kau menemukan cinta sejatimu, jangan pernah lepaskan cinta itu. Kejarlah, perjuangkan, hingga kau menyadari apakah cinta itu masih pantas di perjuangkan atau kau harus melepaskannya.

 

Jadi, saat kau belum menemukan cinta sejatimu itu, bolehkan aku mengajukan permintaan? Bisakah kau belajar mencintaiku? Walau hanya sedetik saja tak apa yang penting kau pernah mencintaiku. Tapi, jika kau telah menemukan cinta sejatimu itu, aku juga akan mengajukan permintaan. Permintaanku, jangan pernah kau melupakan atau menghapus aku dalam ingatan dan kehidupanmu. Karena aku tak ingin dilupakan olehmu. Biarlah aku menjadi kenanganmu, masa lalumu, pelajaran dalam kehidupanmu supaya kau tak mengalami seperti yang aku alami dulu.

 

Sepertinya aku terlalu banyak menulis, ya? Pasti kau sangat bosan melihat tulisanku yang berantakan ini. Aku akhiri saja ya.

 

Aiden, aku mohon, kau jangan pernah menyesali kematianku. Aku mohon kau jangan sedih berlarut-larut. Aku mohon kau harus hidup lebih baik tanpaku. Kau harus jaga kesehatanmu. Kau harus lebih banyak tersenyum dan lihatlah sekitarmu. Kau mempunyai keluarga dan sahabat yang sangat setia dan menyayangimu. Kau masih punya aku dalam hatimu. Kau tak pernah sendirian. Kau juga harus menemukan kebahagianmu dan cinta sejatimu.

Selamat tinggal Aiden.

 

Dari kekasih yang selalu mencintaimu,

 

Danie


Keheningan malam terusik oleh suara isakan tangis dari Aiden setelah selesai membaca surat dari Daniella. Menyesal. Penyesalan itu memang selalu ada di akhir, saat kita menyadari bahwa semua sudah terlambat. Aiden pun menyadari itu. Jika saja dia mau membuka hatinya untuk gadis itu, pasti sekarang ini dia tak akan kehilangan gadis itu.

“Danie, maafkan aku karena membuatmu seperti ini. Maaf aku tak bisa membalas cintamu. Tapi, aku berterima kasih kau telah hadir dalam hidupku. Membuatku membuka mata untuk melihat sekelilingku. Aku janji, aku tak akan melupakan dan menghapus sosokmu dalam kehidupanku. Biarkan aku menyimpanmu dalam sebuah kenangan masa lalu yang selalu aku ingat dalam hati dan pikiranku. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku juga akan hidup menjadi lebih baik lagi.”

Keesokan harinya Aiden tampak lebih ceria. Dia berjanji tak akan bersedih lagi karena dia tidak ingin membuat Danie bersedih di alam sana. Perubahan Aiden membuat semua orang heran melihatnya. Namun, mereka tak menampik bahwa mereka lebih senang melihat Aiden ceria atau kalau tidak melihat Aiden emosi daripada harus melihatnya bersedih terus menerus.

Spancer yang sedari tadi berada di ruangan Aiden hanya diam menatap Aiden. Berpikir ada apa dengan sahabatnya ini. Dan tatapannya terhadap Aiden membuat Aiden risih.

“Spancer, sebenarnya ada perlu apa kau di ruanganku? Apa pekerjaanmu sudah beres?”

“Aku mengamatimu. Pekerjaan? Aku sudah menyelesaikannya. Tinggal menunggu balasan dari klien kita.”

“Mengamatiku? Memangnya ada yang salah dengan diriku?”

“Kau aneh.”

“Aneh? Maksudmu sebenarnya apa? Aku tidak paham.”

“Seminggu yang lalu kau tampak murung. Sekarang kau terlihat ceria. Ada apa?”

“Jadi, kau lebih suka melihatku murung?”

“Bukan begitu. Maksudku…”

“Aku hanya tak ingin membuat arwah Danie di alam sana sedih dengan kondisiku yang terus menerus menyalahkan diriku sendiri karena kematiannya. Aku harus menjadi hidupku.”

“Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kau memang harus bangkit dan menjalani kehidupanmu.”

“Maaf, sudah membuatmu cemas, Spancer.”

“Tak apa. Bukankah itu gunanya sahabat?”

“Kau memang sahabat terbaikku.”

“Tentu saja. Aku tak akan rela jika kau mengganti posisiku dengan orang lain.”

“Tidak akan pernah.”

“Baiklah. Aku masih ada urusan. Aku pergi dulu.”

“Hati-hati. Kalau kau kembali lagi, jangan lupa belikan aku makan siang.”

“Jika aku tidak lupa.”

Spancer pun pergi meninggalkan ruang kerja Aiden. Dia memang tidak bohong mengatakan dia masih ada urusan. Kini, dia berada di sebuah pemakaman. Dia berjongkok di salah satu batu nisan, yang tertulis sebuah nama.

Daniella Han

20-05-1989/13-11-2014

“Danie. Aku datang lagi. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau bahagia di alam sana. Kau tahu, hari ini aku akan melaporkan keadaan Aiden padamu. Dia sudah tidak bersedih dan murung lagi. Dia sangat ceria dan bersemangat. Kau jangan mencemaskan dirinya lagi. Danie, aku pergi dulu. Lain kali aku akan datang lagi. Sampai jumpa.”

Spancer pun meninggalkan area pemakaman itu menuju mobil yang sudah menunggunya. Saat dia hendak meraih ganggang pintu mobilnya, dia menengok ke area pemakaman kembali, dan disana, dia melihat sosok Danie tersenyum padanya.

Di dalam mobil, Spancer berdiam diri. Belum mengemudikan mobilnya. Dia menundukkan kepalanya di kemudi mobil. Menangis dan tangannya terlihat meremas selembar kertas.

“Hiks,,,hiks,,, Danie, maafkan aku.”

Selama 15 menit, Spancer masih bertahan dengan posisinya. Isak tangisnya masih terdengar perlahan. Hingga suara dering telepon menghentikan aksinya. Dia mengusap air matanya. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan dia pun menjawab telepon tersebut.

“Halo, Tuan Choi.”

“Halo, Tuan Lee, maaf jika saya baru bisa memberikan jawaban atas proposal yang Anda ajukan beberapa minggu alu.”

“Tidak apa-apa, Tuan Choi. Jadi, bagaimana?”

“Kami menunggu kedatangan Anda sekarang untuk membahas kelanjutan proposal yang Anda ajukan. Perusahaan saya setuju dan bersedia bekerjasama dengan perusahaan Anda.”

“Ini kabar baik. Terima kasih, Tuan Choi.”

“Kalau begitu, saya tunggu kedatangan Anda di kantor saya.”

“Baik. Saya sedang dalam perjalanan menuju kesana.”

Setelah mengakhiri pembicaraan tersebut, Spancer kembali menjadi Spancer yang ceria lagi. Dia pun menyalakan mesin mobilnya dan segera menuju ke kantor, perusahaan Tuan Choi Siwon.

Untuk pria yang sangat mencintaiku, 

Spancer.

 

Saat kau menerima surat ini dan membacanya, itu artinya aku sudah tidak ada disisimu lagi. Maaf kalau aku bersikap pengecut. Tak berani mengutarakan langsung kepadamu. Aku hanya tak sanggup harus meneteskan air mata dihadapanmu. Cukup Aiden saja yang membuatku menangis. Biarkan kau yang membuatku ceria.

 

Terima kasih karena selama ini kau bersedia menerima aku menjadi sahabatmu dan membantuku untuk dekat dengan Aiden. Walau, sebenarnya aku tahu, kau juga mempunyai perasaan kepadaku. Belum pernah aku menemukan seorang pria seperti dirimu. Seharusnya kau berhak mencintai wanita yang lebih baik daripada aku.

 

Berada didekatku, pasti kau selalu merasakan sakit hati karena kedekatanku dengan Aiden. Aku tahu, aku bodoh karena tetap menyakitimu. Kau boleh membenciku. Aku pernah mengatakannya padamu, kan? Tapi, kau tak pernah sekalipun membenciku walau aku terus menerus menyakitimu.

 

Spancer, aku berharap di kehidupan selanjutnya, kau bisa menemukan kebahagiaanmu. Temukan dan cintai wanita yang tulus mencintaimu dan rela berkorban untukmu. Tapi, satu hal,  jangan pernah lupakan aku. Aku tak sanggup jika kau melupakanku. Lebih baik kau membenciku daripada kau melupakanku.

 

Terakhir kalinya, Spancer, aku menyayangimu.

 

Dari wanita yang sangat kau cintai,

Danie

6AwOfLq

Tak berselang lama setelah kepergian Spancer, sebuah mobil AUDI A5 terparkir di halaman area pemakaman. Seorang pria turun dari mobilnya dengan membawa sebuket bunga lily putih. Bunga favorit dari wanita yang dia cintai yang kini sudah hidup tenang di alam sana. Namun, langkahnya terhenti saat dia juga melihat sebuket bunga lily putih lain diletakkan di depan batu nisan kekasihnya. Namun, karena tak ingin berprasangka jelek, dia pun membiarkan saja dan meletakkan sebuket bunga lily putih yang dia bawa diletakkan disebelah buket bunga lily putih lainnya.

buket-yang-paling-indah-tulip-putih

“Danie, aku datang. Bagaimana kabarmu? Aku sudah membaca surat darimu. Surat yang sangat manis. Kau tahu, itu adalah surat cinta pertama yang aku terima sejak aku lulus sekolah. Kau boleh menertawakanku. Sebenarnya, saat sekolah dulu, aku adalah pria terpopuler. Tapi, tak ada yang berani mendekatiku karena dulu aku sangat menyeramkan dan galak. Terima kasih, suratmu akan aku rawat dengan sebaik-baiknya. Begitupun dengan cintamu padaku, akan aku jaga selamanya. Maaf, aku tak bisa berlama-lama disini. Aku harus menemani ibu ke rumah sakit. Jangan khawatir, hanya chek up kesehatan rutin seperti biasa. Lain kali aku akan datang lagi. Sampai jumpa, Danie. Aku mencintaimu.”

Aiden, pria yang baru saja berbincang-bincang dengan Danie, beranjak dari tempatnya, kemudian menuju mobil yang masih terparkir di halaman pemakaman. Namun, saat hendak membuka pintu mobil, Aiden seperti mendengar seseorang berbisik di telinganya dengan pelan.

“Aku juga mencintaimu, Aiden.”

Semilir angin pun mengantar hilangnya suara berbisik itu yang membuat Aiden menoleh ke segela arah hingga akhirnya matanya tertuju pada sesosok wanita cantik yang tersenyum ke arahnya. Aiden pun membalas tersenyum.

Dalam hidup akan selalu ada yang datang dan yang pergi. Dan akan ada seseorang yang membawamu ke masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Seseorang yang pergi membawamu pada kenangan. Entah itu kenangan pahit, sedih, atau manis. Namun, satu hal yang tak boleh dilakukan adalah melupakan. Karena melupakan sesuatu hanya akan menyakiti diri kita sendiri. Kau yang tak akan pernah kembali lagi. Namun, kau akan selalu abadi dalam hati dan pikiranku.

END

Coretan Tanganku

Selamat Ulang Tahun

Halo, Halo, Halo,

Maaf ya, untuk kesekian kalinya saya kembali amnesia. Tanggal 6 Februari kembali saya lupakan. Saya benar-benar lupa kalau blog saya “Aku dan Duniaku” telah berusia 6 tahun. Yeeeee!!! Selamat ya.

Blogku, saya minta maaf karena belum bisa meramaikan kamu lagi. Kesibukan kembali menghampiri saya dan saya sedang buntu ide untuk menuangkan sesuatu disini.

Tapi, kalau ide sudah bermunculan, secepatnya akan aku publishkan disini. Dan duniamu menjadi lebih ramai dan berwarna.

Oia, untuk tahun ini, semoga kamu akan selalu menjadi dunia bagiku disaat saya merasa senang, sedih, kecewa, dan lain sebagainya. Saya juga berharap apa yang saya tuliskan disini, di duniamu, bisa menjadi inspirasi bagi semua orang dan bermanfaat bagi yang sudah singgah dan mau membaca tulisan-tulisan saya disini.

Saya berharap disini menjadi sebuah awal yang manis dalam mencapai mimpi-mimpiku. Semoga kamu masih menjadi tempat rahasia bagiku untuk menceritakan tentang dirinya. Semoga semua harapanku bisa terkabul. Amin.

Sekian dan terima kasih.

cake with six candles happy_anniversary_6th_mug-rc52b18c0f8db48f7907b5a758a8eda9b_x7j1o_8byvr_324

Fanfiction

Tonight (Short Version)

999321_405375332912283_98278749_n

Title : Tonight | Main Cast : Han Yesha (OC), Lee DonghaeGenre : Sad – Angst

Note : Sebelumnya, aku mau mengucapkan terima kasih untuk artworker yang sudah membuatkan cover ini. Dan aku minta maaf untuk artworker karena aku lupa siapa yang sudah membuat cover ini. Ini adalah cover fanfiction yang sudah lama dan baru terpikirkan beberapa hari yang lalu untuk menyelesaikan ceritanya yang secara tak sengaja baru menemukan ide untuk cerita tersebut setelah mendengarkan lagu dari grup band Indonesia, SO7 yang berjudul Sephia. Jadi, pembaca mungkin sudah bisa menebak bagaimana isi ceritanya. Karena terkesan mendadak jadi isi ceritanya mungkin sedikit mengecewakan. Dan, cerita ini juga aku anggap sebagai cerita akhir tahunku.


Tuhan menganugerahkan cinta kepada semua manusia. Cinta adalah sesuatu yang sangat indah. Cinta ditujukan kepada siapa saja. Tak mengenal batasan. Begitu juga dengan cinta antara pria dan wanita. Dan Yesha pun tak bisa mengelak jika cinta datang menghampirinya. Cinta mendatangkan kebahagiaan. Tapi, bagi Yesha, cinta juga mendatangkan kesedihan. Yesha tak menyalahkan cinta. Tetapi, waktu dan penerima cinta itu yang membuatnya merasa bersalah.

Sejak perkenalannya dengan Donghae, tiga bulan yang lalu, membuat hubungan antara mereka -Donghae dan Yesha- menjadi lebih intim. Bukan lagi hubungan antar teman. Bisa dikatakan hubungan itu menjadi sebuah hubungan pribadi antara seorang pria dan wanita. Awal kedekatan mereka itulah yang membuat mereka menjadi lebih akrab. Dan hal itu tidak bisa menapik perasaan mereka satu sama lain yang menumbuhkan suatu perasaan cinta.

Tidak ada yang salah jika mereka jatuh cinta. Tidak ada yang melarang jika mereka selalu bersama-sama. Tidak ada yang salah jika Yesha menjadi tertarik pada Donghae. Tapi, yang menjadi masalah adalah jika mereka semakin jauh dalam melanjutkan hubungan tersebut. Salah satu dari mereka harus membuang perasaan cinta itu.

Jika status keduanya adalah tidak sedang mempunyai pasangan, tidak masalah. Tapi, bagaimana jika yang terjadi adalah Donghae sudah menikah? Kenyataannya, Donghae sudah menikah dengan seorang wanita yang telah dijodohkan oleh keluarganya. Usia pernikahan mereka sudah menginjak 2 tahun.

Hal itulah yang membuat Yesha resah. Dari awal, dirinya tahu bahwa tidak seharusnya dia mempunyai perasaan itu kepada Donghae. Tapi, apa yang bisa Yesha perbuat jika Tuhan memberikan perasaan itu pada Yesha. Sekuat apapun Yesha menolak kehadirannya, cinta tetap datang menghampirinya. Yesha sadar hubungan mereka tak bisa dilanjutkan karena hanya membuat mereka semakin tersakiti. Yesha tak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain. Yesha juga seorang wanita, dia tahu bagaimana jika dia berada di posisi sebaliknya.

Mau tak mau, suka tak suka, perasaannya kepada Donghae harus dia hilangkan. Dia juga harus membicarakan semua permasalahan ini kepada Donghae dan harus segera mengakhirinya. Agar tidak timbul masalah di kemudian hari. Yesha juga sadar bahwa mereka tak bisa bersatu dan kisah cinta mereka pun tak akan pernah bisa abadi selamanya.

~**~

Saat semua orang tengah berbahagia menunggu datangnya tahun baru, seorang gadis yang berada di salah satu kamar hotel berbintang lima berdiri di balik kaca ruangan tersebut sambil melihat pemandangan malam. Dengan handphone yang dia pegang seolah tak sabar menunggu telepon dari seseorang yang sangat dia rindukan.

Sebelumnya, dia sudah mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang itu -Donghae- untuk menemuinya hotel berbintang, tempat dimana dia berada sekarang. Tapi, orang yang dia tunggu tak kunjung datang. Yesha berusaha setenang mungkin menunggu kabar dari Donghae, walau sebenarnya dia sangat cemas jika Donghae tak menemuinya.

Yesha ingin sekali menegaskan hubungan mereka setelah sebelumnya, Donghae sudah bergerak lebih cepat darinya. Donghae telah menegaskan pada Yesha untuk tidak menghubunginya lagi dan jangan pernah menemuinya lagi karena Donghae akan melupakannya. Dia tak ingin menyakiti perasaan istrinya. Ya, itu juga yang ingin Yesha sampaikan pada Donghae. Tapi, satu kesalahan Donghae, bahwa, dia tak memikirkan perasaan Yesha juga yang nyatanya juga mencintainya.

Memikirkan semua itu membuat Yesha menangis dalam diam. Sekarang, siapa yang salah jika mereka di hadapkan pada situasi seperti ini. Donghae maupun Yesha sebenarnya tidak ingin berada di situasi ini. Tapi, takdirlah yang membuat mereka harus bertemu dan saling mencintai dengan kondisi yang salah.

Saat masih sibuk dengan pikirannya sendiri, handphone Yesha bergetar, menandakan sebuah pesan baru saja masuk. Dengan segera Yesha membuka pesan tersebut yang ternyata dari Donghae. Melihat nama Donghae tertera di layar handphone-nya membuatnya tersenyum. Namun, senyum itu segera hilang karena isi dari pesan itu yang membuatnya menjadi sedih.

To: Yesha

Yesha, maafkan aku. Dari awal, tidak seharusnya kita menjalin hubungan ini. Aku bersalah padamu, tidak seharusnya kau mencintaiku. Dan, kini aku malah menyakitimu. Membuatmu menangis karena kau mencintaiku. Kau adalah wanita yang baik yang harusnya mendapatkan pria yang baik juga, bukan aku. Jika kita memaksakan perasaan kita, hanya akan membuat masing-masing dari kita tersakiti. Aku mohon lupakan aku. Setelah malam ini, jika suatu saat kita bertemu lagi anggaplah kita tak saling mengenal. Kisah antara kita tak akan pernah abadi. Maaf aku tak bisa menemuimu. Aku harus menemani istriku, dia sedang sakit. Dia membutuhkan aku. Aku harap kau segera bisa melupakanku. 

Untuk terakhir kalinya, aku ingin mengatakan kepadamu. Aku mencintaimu, Yesha. Selamat malam. Selamat tinggal. Semoga kau hidup lebih baik dan bahagia. 

Pesan dari Donghae itu, mau tak mau membuat Yesha kembali terisak. Menangis dalam diam. Dia ingin sekali bisa bertemu dengan Donghae untuk terakhir kalinya. Namun, takdir tak mengijinkannya bertemu. Lalu, Yesha pun memutuskan mengirimkan sebuah pesan untuk Donghae sebagai balasannya.

To: Donghae

Donghae, sebenarnya aku ingin sekali kita bisa bertemu untuk terakhir kalinya. Aku sangat merindukanmu. Tapi, mau bagaimana lagi jika ternyata ada orang lain yang lebih membutuhkanmu daripada aku. 

Aku tahu sejak awal kita memang tidak seharusnya saling mencintai. Tuhan tak mengijinkan kita bersama bukan? Tapi, Tuhan malah membuat kita saling mencintai. Aku tak tahu alasannya. Tapi, aku tak pernah menyesali pertemuanku denganmu. Aku juga tak menyesali karena sudah mencintaimu. Walau aku tak bisa memilikimu seutuhnya. 

Seperti katamu, aku akan mencoba melupakanmu. Aku akan berusaha walau aku tak tahu apakah itu bisa atau tidak. 

Aku juga mencintaimu, Donghae. Aku doakan semoga kau bahagia dengan keluargamu. Aku harap kau juga bisa melupakan aku. Selamat tinggal. 

Saat kau menerima pesan ini, aku sudah tak berada lagi disini. Aku telah pergi jauh dari kehidupanmu untuk selama-lamanya.

Setelah mengirimkan pesan itu untuk Donghae, Yesha pun bergegas meninggalkan hotel tersebut. Entah kemana Yesha akan pergi, hanya Yesha yang tahu. Yesha hanya perlu berjalan, berjalan, dan terus berjalan. Melupakan semua kenangan di tahun lalu. Kemudian, bangkit, melangkah, dan menuliskan kembali kenangan baru di tahun yang akan datang.

Selamat tinggal masa lalu, selamat datang masa depan.

Fanfiction

Karena Seperti Itulah Cinta

karena

© :http://whiteandblack22.wordpress.com @blackid22

Title : Karena Seperti Itulah Cinta | Main Cast : Daniella Han (OC), Aiden Lee, Spancer Lee | Genre : Angst – Romance

Quote:

“Aku mendekatimu karena hatikulah yang menuntunku untuk tetap berada di sekitarmu. Suka atau tidak suka, aku akan tetap ada di sekitar kehidupanmu sampai hati itu juga yang memintaku untuk berhenti mendekatimu.”


Pagi hari yang cerah seharusnya di sambut dengan ceria. Tetapi, hal itu tidak berlaku untuk Aiden. Semenjak kehadiran Danie, gadis yang secara tidak sengaja ditolongnya itu, kehidupan Aiden bisa dikatakan sudah tidak normal lagi, itu menurut Aiden. Tapi, tidak untuk kehidupan Danie, yang malah selalu diwarnai keceriaan setiap bertemu dengan Aiden.

Sebenarnya, kehadiran Danie dalam kehidupan Aiden, tidak bisa dikatakan mengganggu. Karena menurut pengakuan sahabat Aiden, Spancer, pria yang bekerja satu kantor dengan Aiden, yang terkenal sangat playboy, aktivitas sehari-hari Aiden malah menjadi teratur setelah bertemu dengan Danie. Hal ini juga di setujui oleh seluruh karyawan kantor dimana Aiden pimpin.

Saat Aiden belum bertemu dengan Danie, Aiden di kenal sebagai pribadi yang sangat dingin, irit bicara, mahal senyum, seenaknya sendiri, diktator dan jarang memperhatikan kebutuhan hidupnya sehari-hari, termasuk nutrisi. Yang ada di pikiran Aiden hanyalah bekerja, bekerja, dan bekerja. Itu sebabnya, sangat jarang ada wanita yang bisa bertahan menghadapi kelakuan Aiden. Para karyawan sebenarnya tidak membenci Aiden. Tingkah Aiden yang suka membentak, marah-marah, dan memerintah seenaknya, sudah dianggap seperti makanan sehari-hari mereka. Mereka malah kasihan melihat Aiden seperti itu. Para karyawan pun selalu berdoa semoga pimpinan mereka bisa berubah suatu saat nanti.

Danie. Gadis itulah yang selalu ditunggu oleh para karyawan di kantor. Saat gadis itu tiba di kantor, semua karyawan menyapa, menyambutnya, dan tersenyum kepadanya. Tak lupa Danie pun membalas perlakuan yang sama kepada para karyawan. Suasana kantor yang dulunya suram, kini menjadi lebih ramai karena saat Danie dan Aiden bertemu maka akan pecah perang dunia.

Semua orang tahu bahwa Danie sangat mencintai Aiden. Namun, perasaan Danie tak pernah dibalas oleh Aiden. Semua orang yang melihat itu merasa kasihan kepada Danie. Tapi, gadis itu tak pernah menunjukkan kesedihan ataupun merasa sakit hati dengan perlakuan Aiden. Danie tak pernah menyerah untuk bisa meluluhkan hati baja seorang Aiden.

“Gadis bodoh! Bisakah kau enyah dari hadapanku sekarang!?” teriak Aiden kepada Danie yang berada di ruang kerja Aiden. Teriakan yang menyakitkan bagi orang lain tapi teriakan itu sudah kebal untuk Danie. Dan hal seperti itu sudah seperti pemandangan sehari-hari bagi karyawan.

“Hei, Tuan Tampan. Jangan marah-marah seperti itu. Nanti kau bisa kehilangan kadar ketampananmu,” canda Danie.

“Biarkan saja. Dengan begitu kau tak akan berkeliaran di sekitarku karena aku sudah tak tampan lagi,” sambung Aiden yang sedang berusaha untuk membujuk Danie untuk tidak mengganggunya lagi.

“Meski kau nantinya sudah tidak tampan lagi, bukan berarti aku tidak menyukaimu lagi. Dari awal aku bertemu denganmu hingga saat ini, bukan ketampananlah yang menjadi alasanku untuk mencintaimu,” jelas Danie, yang membuat Aiden penasaran dengan penjelasan Danie.

“Benarkah? Tapi selama ini alasan para wanita yang selalu tiba-tiba hadir di kehidupanku, mereka mendekatiku hanya karena aku kaya dan tampan. Lalu, mengapa kau memberikan alasan yang berbeda?” tanya Aiden yang masih penasaran dengan penjelasan Danie.

“Hati.” Jawab Danie dengan cepat namun terdengar lirih.

“Apa?” tanya Aiden berusaha mencerna apa yang di katakan Danie.

“Maksudku, aku mendekatimu karena hatikulah yang menuntunku untuk tetap berada di sekitarmu. Suka atau tidak suka, aku akan tetap ada di sekitar kehidupanmu sampai hati itu juga yang memintaku untuk berhenti mendekatimu.”

“Lalu bagaimana caranya supaya kau tak mengusik lagi kehidupanku dengan kehadiranmu di sekitarku??” tanya Aiden yang sudah merasa lelah karena setiap hari selalu perang argumen dan pendapat dengan Danie.

“Membunuhku.”

“Apa!!??” teriak Aiden sangat terkejut mendengar penuturan dari Danie. “Kau sudah gila? Bagaimana bisa kau dengan gampangnya berkata seperti itu! Kau tak sayang lagi dengan duniamu?”

“Duniaku?” guman Danie pelan yang kemudian tersenyum.

“Apa yang lucu?” tanya Aiden merasa heran melihat senyum yang di tampakkan oleh Danie.

“Selama ini duniaku adalah kau. Selama kau masih baik-baik saja, aku akan selalu menyayangi duniaku.”

“Tapi aku tak ingin menjadi duniamu.”

“Itu terserah padamu. Kau mau mengatakan tak ingin pun tak masalah. Selama aku masih bernafas, selama mataku masih bisa melihat dan masih belum terpejam untuk selamanya, dan jantungku masih tetap berdetak, selamanya kau akan selalu menjadi duniaku. Tapi, jika memang kau merasa sangat terganggu dengan adanya diriku di kehidupanmu, segeralah bunuh aku.”

“Aku tak mau membunuhmu. Aku bukan pembunuh. Dan tak ingin menjadi pembunuh.”

“Kalau begitu, biarkan aku tetap berada di sekitarmu hingga kematian itu datang menjemputku. Setelah aku mati, kau tak akan merasa terganggu lagi. Tapi, aku tak tahu kapan kematian itu menjemputku.”

“Hari ini kau aneh. Kau salah minum obat?” tanya Aiden yang merasa ada yang aneh dengan kondisi Danie saat ini.

“Aneh bagaimana? Minum obat? Setahuku, aku sedang tidak mengidap penyakit apapun.” Danie pun tengah berpikir seolah mendiagnosis apakah dia memang mengidap penyakit. Tiba-tiba, sebuah teriakan kecil dari Danie membuat Aiden menoleh ke arah Danie, menatap manik mata Danie, seolah menyiratkan pertanyaan ‘ada apa?’

“Ah, iya. Aku baru saja ingat. Aku memang sedang mengidap penyakit yang tak bisa di sembuhkan oleh dokter manapun.”

“Memang ada penyakit yang tak bisa di sembuhkan oleh dokter? Penyakit apa itu?” tanya Aiden terheran-heran dengan perkataan Danie yang secara tiba-tiba tadi. Danie pun beranjak dari tempat duduknya menuju meja kerja Aiden. Menghampirinya, kemudian membisikkan sesuatu yang berhasil membuat Aiden melototkan matanya karena di jahili lagi oleh Danie.

“Kau mau tahu penyakitku? Penyakit itu bernama penyakit cinta. Yang hanya bisa di sembuhkan oleh Aiden.” Danie pun segera berlari keluar ruangan sebelum Aiden berteriak dan mengejarnya. Menjahili Aiden adalah suatu kesenangan bagi Danie.

Di luar ruangan, para karyawan yang mendengar teriakan dari dalam ruang kerja kepada seorang gadis yang baru saja keluar dari ruangan pimpinannya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena sudah biasa melihat kejadian seperti itu. Hanya seorang Danie saja yang bisa membuat pimpinan mereka bertingkah seperti anak kecil. Danie yang tengah berlari tak sengaja menabrak seseorang, Spancer, sahabat Aiden.

“Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu. Aku tak melihatmu tadi di depanku.”

“Tentu saja kau tak melihatku karena yang kau lihat itu adalah ruangan itu,” tunjuk Spancer pada sebuah ruangan, yang merupakan ruang kerja Aiden.

“Hehehe. Maaf.” Danie yang dari tadi melihat arah tangan Spancer menunjukkan jawabannya malah di jawab sebuah cengiran oleh Danie.

“Kau tidak lelah menjahili Aiden setiap hari?”

“Tidak. Menyenangkan bisa menjahilinya.”

“Aku kasihan melihatmu seperti ini. Aku tahu, kau sangat tulus mencintainya, tapi dia tak pernah menyadari perasaanmu itu. Berhentilah. Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan mencintai seseorang yang tak bisa membalas cintamu itu.” Spancer mencoba menasehati Danie yang mana sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.

“Kau tak perlu mengasihaniku seperti itu. Aku tahu kapan aku berhenti melepaskan cintaku, ataupun kapan aku tetap mengejar cintaku.”

“Tapi,,,” sebelum Spancer melanjutkan perkataannya, Danie segera menghentikan perkataan Spancer dengan menempelkan telunjuknya di depan mulutnya, seolah tanda supaya Spancer diam tidak melanjutkan perkataannya.

“Saat ini, aku hanya ingin merekam semua kegiatanku seharian ini. Termasuk menjahili Aiden,” ujar Danie. ‘Karena mungkin itu akan menjadi saat terakhirku di dunia ini,’ gumam Danie dalam hatinya.

“Spancer, bolehkan aku meminta tolong padamu?”

“Apa?”

“Upayakan supaya Aiden selalu dalam keadaan baik-baik saja.”

“Maksudmu?” tanya Spancer yang merasa ganjil dengan permintaan Danie.

“Ya, intinya, utamakan supaya Aiden selalu tersenyum, makan teratur, ramah kepada semuanya, tidak bersedih dan tidak menangis. Bagaimanapun caranya. Aku mohon.”

“Baiklah. Aku akan berusaha memenuhi permintaan anehmu itu.”

“Terima kasih. Kalau begitu aku pamit dulu. Selamat tinggal.”

“Eh, ya. Hati-hati di jalan.”

Setelah sepeninggalan Danie, Spancer memasuki ruangan Aiden. Nampak Aiden masih berkutat dengan proposal yang menumpuk di meja kerjanya seolah tak peduli dengan kehadiran Spancer. Kotak makanan yang di bawakan Danie masih tertata rapi di meja kerja Aiden.

“Aiden,” tegur Spancer.

“Ya?” sahut Aiden tanpa menoleh ke arah Spancer karena masih terfokus dengan proposal yang masih menumpuk itu.

“Kau belum menghabiskan makananmu?”

“Sudah.” Jawab Aiden dengan singkat.

“Sudah? Kebetulan sekali kau menghabiskan makanan yang di bawakan Danie.”

“Bukan kebetulan. Setiap hari, setiap dia mengantarkan dan membawakanku makanan selalu aku makan.”

“Kenapa aku baru tahu?”

“Karena itu bukan sesuatu berita besar. Dia selalu saja cerewet jika aku belum menghabiskan makananku. Dia bahkan selalu mengancamku jika tidak menghabiskan bekal makanannya itu.”

“Tentu saja itu berita besar yang harus di ketahui, Aiden. Dan, apa isi ancamannya padamu?”

“Dia mengancam akan selalu membawakan bekal untukku bahkan bisa mencapai satu ember. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik aku makan bekal yang dia bawa, walau ukurannya kecil tapi mengenyangkan.”

“Lalu, kapan kau juga akan membalas perasaannya terhadapmu?” tanya Spancer yang sedang mencari celah supaya Danie dan Aiden bisa bersatu selamanya.

“Aku tak tahu kapan perasaannya bisa aku balas.”

“Aku hanya menasehatimu sedikit saja. Aku harap, kau jangan menyesal terhadap perasaanmu yang tak kunjung membalas perasaan dari orang yang sangat mencintaimu. Aku tak ingin melihatmu kembali ke sosok dinginmu itu. Saat ini kau masih belum menyadari arti pentingnya seorang Danie bagimu. Tapi, jangan sampai kau menyadarinya setelah waktu itu tiba, waktu dimana kau tak akan bisa melihat sosoknya lagi untuk selamanya.”

Nasehat yang di sampaikan Spancer itu hanya di balas dengan anggukan kepada Aiden yang tidak bersemangat. Spancer hanya bisa mendengus melihat sikap Aiden tersebut. Dia malas jika harus berdebat dengan anggota lainnya. Televisi pun menjadi tujuan Spancer untuk melihat info-info yang sedang beredar. Hingga sebuah berita membuatnya terbungkam.

“Selamat siang, permirsa. Kami dari stasiun televisi swasta 123 melaporkan bahwa baru saja terjadi kecelakaan mobil di daerah Gangnam, Korea Selatan. Sebuah mobil melaju dengan kencang, menerobos dan menabrak pagar pembatas jalan. Akibat kecelakaan tersebut, dua orang tewas seketika. Adapun korban meninggal dunia yang telah di ketahui identitasnya bernama Daniella (26 tahun) dan Nayoung (17 tahun). Korban di larikan ke Rumah Sakit St Maria Seoul guna dilakukan otopsi. Demikian laporan kami sampaikan dari daerah Gangnam.”

Tanpa menunggu aba-aba, Aiden segera bergegas menuju rumah sakit yang di maksudkan. Spancer yang tahu sahabatnya sedang dalam kondisi cemas segera menyusulnya.

“Aiden! Tunggu!” teriak Spancer yang berlari mengejar Aiden yang kalut setelah mendengar kabar kecelakaan tersebut. Spancer mengejar Aiden yang sudah bersiap melajukan mobilnya namun dihentikan oleh Spancer. Mereka pun berganti posisi, Spancer membiarkan Aiden duduk di kursi penumpang bermaksud untuk menenangkan dirinya.

Sepanjang perjalanan, Aiden hanya diam saja dengan tatapan yang kosong. Tak berselang lama, akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit St Maria Seoul. Aiden yang masih kacau pikirannya langsung keluar dari mobil dan berlari memasuki ruangan di rumah sakit tersebut. Spancer mengikutinya dari belakang setelah tadi bertanya tempat dimana korban kecelakaan berada.

Sesampainya di ruangan yang di tuju, Aiden hanya berdiri terdiam, memandangi sesosok gadis yang sudah tak bernyawa. Tanpa terasa air matanya pun menetes membasahi pipinya. Sekilas cuplikan-cuplikan tentang hari ini seolah terngiang di pikirannya.


“Aku mendekatimu karena hatikulah yang menuntunku untuk tetap berada di sekitarmu. Suka atau tidak suka, aku akan tetap ada di sekitar kehidupanmu sampai hati itu juga yang memintaku untuk berhenti mendekatimu.” – Danie –

“Lalu bagaimana caranya supaya kau tak mengusik lagi kehidupanku dengan kehadiranmu di sekitarku??” – Aiden –

“Membunuhku.” – Danie –

“Kau sudah gila? Bagaimana bisa kau dengan gampangnya berkata seperti itu! Kau tak sayang lagi dengan duniamu?” – Aiden –

“Selama ini duniaku adalah kau. Selama kau masih baik-baik saja, aku akan selalu menyayangi duniaku.” – Danie –

“Tapi aku tak ingin menjadi duniamu.” – Aiden –

“Itu terserah padamu. Kau mau mengatakan tak ingin pun tak masalah. Selama aku masih bernafas, selama mataku masih bisa melihat dan masih belum terpejam untuk selamanya, dan jantungku masih tetap berdetak, selamanya kau akan selalu menjadi duniaku. Tapi, jika memang kau merasa sangat terganggu dengan adanya diriku di kehidupanmu, segeralah bunuh aku.” – Danie –

“Kalau begitu, biarkan aku tetap berada di sekitarmu hingga kematian itu datang menjemputku. Setelah aku mati, kau tak akan merasa terganggu lagi. Tapi, aku tak tahu kapan kematian itu menjemputku.” – Danie –


Aiden baru menyadari bahwa kejadian di kantor tadi adalah hari terakhir Danie bersamanya. Aiden merasa bodoh dengan membiarkan Danie pergi dari sisinya untuk selamanya. Dia baru menyadari bahwa Danie juga merupakan dunianya. Kini, dunianya tak akan ada lagi. Aiden menyalahkan dirinya sendiri mengapa dia harus membuat Danie dari kehidupannya. Spancer yang melihat bahwa Aiden sedang tengah berduka menghampirinya. Berdiri di sampingnya.

“Kini, dia sudah tidak akan mengusik kehidupanmu lagi. Kau bisa tenang dan fokus pada pekerjaanmu.” Seolah menyindir sahabatnya yang sedang bersedih.

“Ya. Aku kembali pada duniaku yang dulu.”

“Kau tahu, saat tadi di kantor, aku menasehatinya supaya berhenti untuk menyiksa dirinya sendiri karena mencintaimu. Tapi, dia tak ingin di kasihani. Dia seolah tahu kapan dia berhenti melepaskan cintanya padamu, ataupun kapan dia akan tetap mengejar cintamu. Dia juga ingin merekam semua kejadian hari ini dalam ingatannya, termasuk menjahilimu. Lalu, dia meminta tolong padaku supaya aku mengupayakan dirimu untuk selalu tersenyum, makan teratur, ramah kepada semuanya, tidak bersedih dan tidak menangis. Bagaimanapun caranya di memohon padaku supaya melihatmu baik-baik saja. Dia juga berpamitan padaku, walau sebelumnya aku tak menyadari bahwa itu adalah salam terakhir darinya untukku.”

“Aku tak tahu apakah setelah ini aku bisa dikatakan baik-baik saja.”

“Kau baru menyadari perasaanmu padanya sekarang? Saat dirinya sudah tak mungkin lagi bisa kau jangkau.”

“Ya. Aku baru menyadarinya sekarang. Aku baru menyadari saat sosoknya sudah tak ada di sisiku lagi. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Lakukanlah seperti biasanya. Kau tak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Danie juga pasti akan sedih jika melihatmu selalu menyalahkan dirimu sendiri seperti ini. Harapan dia adalah bisa melihatmu bahagia. Jika dia menganggapmu sebagai dunianya, kau pun bisa menjadikannya sebagai duniamu juga. Dunia yang tak akan terpisahkan. Jangan hapus kenangan tentang dia, biarkan dia abadi dalam hatimu. Karena memang seperti itulah cinta. Hanya akan di sadari ketika cinta itu kita abaikan.”

“Jika di kehidupan mendatang aku bisa menemukannya, giliran aku yang akan mengejarnya.”

“Jadikan dia kenangan terindahmu dan semangatmu. Ingat pesan darinya. Tersenyumlah dan hiduplah dengan baik.”


Manusia terkadang tak pernah menyadari sesuatu hal yang sangat berarti dalam hidupnya hingga suatu saat, manusia itu baru menyadari sesuatu hal itu hilang atau menjauh dari dirinya. Setelah kehilangan, manusia merasa hidupnya sudah tak berguna lagi dan membuat dirinya berpikir bahwa kematian adalah hal yang seharusnya di lakukan. Tanpa mengetahui bahwa meski di saat kita kehilangan sesuatu bukan berarti hidup kita berakhir. Kita masih mempunyai masa depan yang harus di raih. Tanpa harus berlarut-larut menyesali masa lalu. Karena hidup itu harus di perjuangkan bukan untuk di buang dan di sia-siakan bagaimanapun keadaan dan kondisi kita. Ingatlah bahwa dunia masih berputar.

Coretan Tanganku

Apa Kabar Sayang? (Aku Ingin Bertemu Denganmu)

Gambar

20 Mei 2014

Seharusnya hari ini menjadi hari yang spesial untukku. Ya, hari ini adalah hari kelahiranku. Selama 25 tahun aku hidup di dunia ini, aku berharap aku bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya, masih di berikan kesempatan untuk bernapas lebih lama lagi, bisa mewujudkan mimpi-mimpiku, dan bisa bertemu dengan jodohku. Amin.

Sejak siang hari, di sinilah aku berada. Sebuah cafe musik dengan nuansa klasik yang terletak di pinggiran kota Surabaya. Aku memilih duduk di kursi paling pojok. Dari sana, aku bisa melihat hiruk pikuk dunia dari dalam cafe yang di batasi oleh kaca jendela dengan ukurannya yang besar.

Aku melamun sambil memandang pemandangan luar dengan sebelah tangan yang bersandar di meja memangku wajahku. Melamunkan sesuatu yang membuatku tak menghiraukan handphone yang dari tadi berbunyi. Sejak tadi pagi handphoneku tak pernah berhenti berbunyi. Banyak pesan yang masuk dari keluarga, kerabat, sahabat, teman, bahkan orang yang tak aku kenal pun memberikan ucapan selamat ulang tahun padaku.

“Permisi, Mbak.” Terdengar lembut suara seorang wanita yang berhasil membuyarkan lamunanku. Aku pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang pelayan cafe tersenyum padaku dengan membawa secangkir minuman.

“Ya, Mbak,” sapaku kepada pelayan tersebut sambil membalas senyumannya.

“Ini pesanan, Mbak. Maaf jika terlalu lama menunggu,” balasnya seraya meminta maaf karena pesananku terlambat datang dan membuatku menunggu lama.

“Terima kasih. Tidak apa-apa, Mbak.” Setelah meletakkan pesananku, pelayan tadi kembali ke dapur. Aku pun mengambil pesananku dan meletakkannya tak jauh dari tempatku. Aku kemudian mengambil sesendok gula yang telah di sediakan memasukkan ke dalam cangkir minumanku dan mengaduknya secara perlahan. Secangkir hot cappuccino adalah minuman kesukaanku. Menyeruput perlahan karena masih sangat panas.

Pikiranku masih terpaku pada sesuatu yang aku lamunkan. Hari yang berbahagia ini seharusnya aku rayakan bersama dengan dia. Seorang pria yang telah lama singgahi hatiku. Namun, sudah seminggu berlalu aku dan dia tak sempat bertemu. Kesibukannya sebagai seorang musisi, membuatku harus menahan berjuta kerinduan padanya. Di satu sisi aku senang karena dia mempunyai banyak job yang memang sangat dia sukai, tapi sisi yang lain, membuatku bersedih karena frekuensi bertemu dengannya hanya sedikit. Tapi, aku tetap mensupport apapun yang dia kerjakan selama itu membuatnya nyaman dan tak lupa aku selalu mendoakannya.

Aku pun dengan isengnya mengetikkan sebuah pesan untuk status facebookku.

Apa kabar, sayang?

Kemudian aku tekan tombol kirim yang ada di handphoneku.

“PING”

Terdengar sebuah suara dari handphoneku. Aku mengeceknya sebuah pesan di kotak masukku yang ternyata berasal dari kabar terbaru facebookku. Aku membukanya dan membacanya. Sebuah pesan singkat yang berhasil membuatku tersenyum bahagia.

Baik-baik saja, sayang. 🙂

Dia seolah tahu bahwa aku merindukannya. Hanya sebuah kalimat singkat, namun sangat berarti untukku. Sebuah kado terindah di ulang tahunku. Hingga aku gumamkan sebuah kalimat sebagai doa untuk dirinya.

“Tuhan, di mana pun dia berada, jaga dan lindungilah dia. Karena aku menyayanginya. Amin.”

_END_

Coretan Tanganku

Happy Anniversary

 Gambar

Tanggal 6 Februari 2014

Adalah hari spesial untuk blogku. Karena blogku meraakan hari jadinya yang ke-5 tahun. Aku tak menyangka bahwa usia blogku sudah mencapai angka 5.

Aku berharap aku masih di berikan kesempatan untuk menuangkan segala unek-unekku ke dalam blog ini. Duniaku yang lain. Dunia di mana aku bisa bebas menuangkan segala perasaanku. Entah kesal, kecewa. marah, senang, bahagia, sedih, semua campur aduk di sini.

Semoga tulisan dalam blogku bisa bermanfaat untuk orang lain dan pembaca yang tidak sengaja mampir ke sini.

Sekian dan terima kasih.