Coretan Tanganku

[Lupa Lagi] Selamat Ulang Tahun

65fcc3f9edc4bbbc18092ded407960e6

 

SELAMAT ULANG TAHUN

090206 / 170206

 

#SelamatUlangTahunKe8 untuk blogku yang telah mengisi duniaku. Tanggal 6 Februari merupakan hari ulang tahun blogku. Dan seperti 2 tahun yang lalu aku selalu lupa.

Aku minta maaf karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk blogku ini. Semoga tahun ini aku semakin banyak membagikan cerita-ceritaku untuk semua orang yang sudah singgah kesini dan menyempatkan membaca. Semoga apa yang aku tulis nantinya juga bisa memberikan manfaat dan inspirasi untuk semua orang.

Sekali lagi terima kasih untuk semua para pengunjung blogku.

 

 

 

Fanfiction

Kau (Sebuah Cerita Tentangmu)

k

© :http://whiteandblack22.wordpress.com @blackid22

Title : Kau (Sebuah Cerita Tentangmu) || Main Cast : Daniella Han (OC), Aiden Lee, Spancer Lee || Genre : Angst – Romance

 

Quote  :

“Kau yang tak akan pernah kembali lagi. Namun, kau akan selalu abadi dalam hati dan pikiranku.”


Sebelumnya : https://oi20.wordpress.com/2014/11/16/karena-seperti-itulah-cinta/

Sudah seminggu berlalu sejak meninggalnya Danie, namun suasana kantor terasa suram, masih berduka karena kehilangan seseorang yang selalu menawarkan keceriaan bagi siapa saja dalam hidupnya. Tak ada semangat untuk bekerja. Namun kesuraman itu terusik oleh suara sepatu yang siapapun sudah tahu siapa pemiliknya. Dengan wajah yang datar dan dingin, pria itu memasuki ruang kerjanya dengan penuh wibawa, membuat para karyawan hanya bisa diam, tak berkutik. Hanya memandangi sosok itu hingga hilang dari balik pintu.

“Huh! Bagaimana bisa orang itu masih bisa memikirkan pekerjaan setelah apa yang terjadi pada Danie. Seharusnya dia yang paling bertanggung jawab atas kematian Danie itu,” gerutu salah satu karyawati yang kecewa melihat sikap pimpinan mereka.

“Hei, sudahlah. Kau tak boleh mencela direktur seperti itu,” bela karyawan yang lainnya.

“Iya. Tuan Lee itu direktur kita. Beliau sangat sibuk memikirkan perusahaan dan karyawannya.”

“Justru aku merasa Tuan Lee lebih sedih dari yang kita kira. Jadi, beliau memilih menyibukkan dirinya dengan bekerja.”

Suasana gaduh pun kembali terdengar karena ocehan para karyawan tentang sikap pimpinan mereka. Hingga terdengar dehaman dari arah belakang mereka yang berhasil membuat mereka terbungkam.

“Ehm. Apakah sekarang sudah waktunya jam istirahat?” tanya seseorang yang berhasil membuat para karyawan terdiam. Salah seorang karyawan mencoba memberanikan diri menoleh ke arah sumber suara, dan nampaklah Spancer, wakil direktur mereka sekaligus sahabat baik Aiden, direktur mereka yang sedang mereka perbincangkan.

“Tuan Spancer,” sapa karyawan tadi kepada salah satu pimpinan perusahaan mereka.

“Kalian disini digaji untuk bekerja, bukan untuk bergosip. Paham?” sindir Spancer kepada karyawan-karyawan yang sedari tadi berceloteh.

“Paham, Tuan Spancer,” jawab serentak para karyawan atas sindiran Spancer.

“Jadi, tunggu apalagi? Kembali ke tempat kalian dan segera bekerja.”

Tanpa menunggu sindiran untuk yang kedua kalinya dari Spancer, para karyawan itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Spancer pun meninggalkan mereka menuju ke ruangan direktur. Sebagai basa basi, Spancer mengetuk pintu ruang kerja Aiden yang di sambut oleh jawaban dari dalam ruangan tersebut.

“Masuk.”

Spancer menampakkan diri dan menutup pintu ruangan itu kembali. Tidak langsung menghampiri Aiden, Spancer memilih menghampiri sofa di ruangan itu sambil menatap sekeliling ruangan tersebut. Seperti ada sesuatu yang hilang di ruangan itu. Aiden yang masih sibuk dengan dokumen-dokumen di mejanya menyempatkan memandang ke arah Spancer.

“Mau susu?” tawar Aiden membuyarkan lamunan Spancer.

“Boleh. Rasa strawberry,” jawab Spancer.

“OK.”

Karena sudah tidak fokus lagi dengan pekerjaannya, Aiden memilih membereskan lembaran kerja di mejanya. Aiden lalu beranjak dari kursinya menuju kulkas di sebelah rak lemari kerjanya yang tampak menjulang tinggi. Aiden pun bergabung dengan Spancer yang memilih duduk berseberangan sambil ikut memandangi sekeliling ruang kerjanya.

“Para karyawan sedang menggosipkan dirimu.”

Spancer membuka pembicaraan terlebih dahulu sambil menikmati susu yang di tawarkan Aiden. Sedangkan Aiden belum berniat membuka suaranya, malah memilih menghabiskan minumannya terlebih dahulu sekali teguk.

“Biarkan saja.” Khas Aiden yang selalu bersikap cuek.

“Kau belum bisa merelakan kepergian Danie?” Spancer kembali bertanya tentang pertanyaan yang sebenarnya jawabannya sudah pasti dia tahu.

“Bukankah kau sudah pasti tahu jawabannya?” Aiden malah berbalik bertanya kepada Spancer yang hanya di jawab dengan anggukan kepala.

“Setiap kali aku memasuki ruanganku, mataku selalu menatap ke arah pintu. Berharap bahwa dari sana Danie akan muncul mengagetkanku seperti biasanya. Berceloteh tanpa aku minta dan tanpa tahu kapan dia akan diam. Membawakan makanan untukku dan memaksaku menghabiskan makanan yang dia bawa yang entah kenapa selalu aku habiskan. Bayangan tentang dirinya tak akan bisa aku hapus dari ingatanku. Aku tak akan mengelak jika kau mengatakan bahwa aku merindukannya. Aku akan menjawab dengan tegas. Ya, aku bahkan sangat merindukannya. Sangat-sangat merindukannya dan membuatku selalu menangis menyesali semuanya karena keterlambatanku yang telah menyia-nyiakan dirinya yang dengan tulus mencintaiku.”

Aiden mengusap wajahnya dengan kasar. Setiap kali mengingat Danie, Aiden selalu meneteskan air matanya. Spancer pun mencoba menenangkan Aiden dengan menepuk-nepuk punggung Aiden.

“Kau tak perlu melupakan atau menghapus bayang-bayang tentangnya. Biarkan saja itu menjadi kenanganmu tentangnya. Kau hanya perlu bangkit dan melanjutkan hidupmu sekarang ini.”

“Aku akan mencobanya. Dan terima kasih untuk semua nasehatmu.”

“Aku akan selalu menasehatimu untuk kebaikanmu. Kalau begitu aku permisi dulu. Aku ada janji dengan klien kita. Terima kasih juga untuk minuman gratisnya. ”

Setelah Spancer pamit dan keluar dari ruangan Aiden, Aiden pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, memeriksa tumpukan dokumen yang ada di atas meja kerjanya untuk di tandatangani.

Tanpa terasa hari sudah mulai gelap, Aiden masih betah berlama-lama di ruang kerjanya. Padahal, para karyawannya sudah pulang dua jam yang lalu. Aiden tak sengaja menoleh ke arah jendela, seperti terkejut bahwa hari sudah sore dan dia tak menyadarinya.

“Sudah sore? Aku bahkan tak menyadarinya. Pantas saja di luar sudah sepi.”

Aiden berbicara pada dirinya sendiri. Aiden pun merapikan meja kerjanya. Segera bergegas untuk pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Saat hendak menutup pintu, Aiden seperti teringat sesuatu. Kemudian berbalik menuju rak lemari kerjanya. Mengambil berkas yang hampir dia lupakan. Saat menemukan berkas yang di maksudkan, tiba-tiba sebuah benda terjatuh. Aiden mengambil benda yang terjatuh itu yang ternyata adalah sebuah amplop putih. Aiden membalikkan amplop itu, tertulis sebuah nama yang membuat jantungnya berdebar-debar. Aiden ingin sekali membuka amplop tersebut namun segera di urungkan karena dia harus segera pulang, tak ingin membuat ibunya cemas. Aiden pun membiarkan amplop itu pulang bersamanya dan akan dibaca nanti di rumah.

Untuk kekasihku, Aiden Lee

Sesampainya di rumah, Aiden disambut oleh celotehan ibunya yang mengkhawatirkan keadaan Aiden. Setelah memberikan pengertian kepada ibunya, dia pun langsung menuju kamar pribadinya. Saat ini Aiden tidak ingin diganggu. Akhirnya, berendam menjadi salah satu cara yang efektif baginya saat ini. Setelah selesai berendam dan membersihkan badannya, rasa lelah karena seharian bekerja pun tidak dia rasakan lagi. Aiden merebahkan diri di ranjangnya sambil menutup matanya. Tiba-tiba, matanya terbuka seperti mengingat sesuatu. Dengan tergesa-gesa, Aiden mengambil map yang berisi berkas-berkas yang sempat dibawa dari kantor. Namun, bukan berkas-berkas itu yang dia ambil. Amplop putih yang dia temukan tadi di kantorlah yang dia keluarkan dari map itu.

Sambil menuju ranjangnya kembali, Aiden membuka amplop tersebut. Sebuah surat yang di tujukan untuknya. Sebuah nama yang sangat dia rindukan akhir-akhir ini. Dia pun mulai membaca surat tersebut.



Seoul, 12 November 2014

 

Apa kabar Aiden Lee, kekasihku? 

Kekasihku?

Terdengar aneh ya? Hanya untuk menyenangkan diri sendiri, tak apa, kan? Karena hanya aku yang menganggapmu kekasih, sedangkan kau tidak. Tapi biarlah, aku akan selalu menganggapmu kekasihku sampai kapanpun.

 

Aiden Lee, saat kau menemukan surat ini, artinya kau tak akan menemukan dan melihatku lagi di dunia ini. Aku minta maaf karena telah mengganggu kehidupanmu selama ini. Aku tahu kau tak menginginkan kunjungan dan ocehanku. Jadi, ijinkan aku untuk terakhir kalinya mengganggu hidupmu sebelum akhirnya aku benar-benar harus pergi untuk selamanya.

 

Aiden, kau pasti heran mengapa aku menulis sebuah surat untukmu. Aku sendiri pun tak tahu. Namun, sudah dua minggu ini, aku bermimpi buruk. Aku seperti diikuti oleh bayangan hitam yang menyeramkan dan membuatku ketakutan. Setap kali aku berusaha melarikan diri, bayangan itu selalu mengikutiku. Berlari sejauh mungkin dari kejaran bayangan itu. Tapi, tetap saja bayangan itu mengejarku dimanapun aku berada. Hingga akhirnya aku tak bisa melarikan diri lagi.

 

Kau tahu bayangan hitam itu kemudian membisikkan sesuatu padaku. “Kau akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu.” Aku tak mengerti maksud perkataannya. Kemudian bayangan itu melanjutkan perkataannya lagi. “Sahabat atau cinta. Kau harus memilih diantara dua pilihan itu. Kau dihadapkan pada sesuatu yang bisa membuat hancur sebuah persahabatan atau melepaskan cintamu yang belum tentu itu akan menjadi cinta bagimu.”

 

Aku semakin bertambah bingung dengan penjelasan dari bayangan hitam itu. “Kau pasti bingung. Selama ini sebenarnya apa kau tidak lelah mengejar seseorang yang tak pernah menyadari keberadaanmu? Lebih baik kau lepaskan atau kau hanya membuat persahabatan dari orang yang kau cintai hancur.” Setelah itu bayangan hitam itu hilang dari hadapanku. Tapi, perkataannya masih terngiang-ngiang di pikiranku. Hingga pada akhirnya aku mengerti apa maksud dari perkataan bayangan hitam itu.

 

Suatu ketika, aku berdiri di sebuah tebing yang sangat curam. Dan disana aku sudah menemukan jawaban yang aku cari. Aku menutup mataku dan menjatuhkan diriku ke jurang yang sangat dalam. Lalu bayangan hitam itu kembali bertanya, “Apa jawaban yang kau pilih hingga memutuskan dirimu menjatuhkan diri ke jurang?” Aku menjawab, “Aku sadar bahwa selama ini aku telah membuat orang lain menderita karena ulahku yang berusaha mengejar cintaku yang tak terbalas. Aku tak bisa menyakiti orang lain lagi karena keegoisanku. Lebih baik aku yang berhenti mengejar cintaku karena aku tahu bahwa dalam hatinya tak pernah ada aku. Aku memutuskan untuk melepaskannya dan berharap dirinya menemukan cinta sejatinya. Aku rela jika harus mengorbankan diriku asalkan dirinya bahagia.”

Aiden, entah kenapa aku sangat merindukan saat pertemuan kita dulu. Apa kau masih mengingatnya? Akhir-akhir ini aku jadi banyak berpikir, apakah ini memang rencana Tuhan mempertemukan aku denganmu?

 

Aku, seorang gadis yang terlalu sering dikhianati oleh para pria karena hanya dimanfaatkan saja oleh pria-pria yang mengobralkan kata cintanya itu untuk bisa menikmati tubuh gadis itu dan  mengeruk habis harta kekayaannya. Setelah itu dibuang bagaikan sampah.

 

Sedangkan kau, pria angkuh dan sombong yang tak mengenal apa itu cinta tetapi  mempunyai hati yang baik. Kau bahkan telah menyelamatkan masa depan gadis itu dari sesuatu yang mengerikan dalam hidup gadis itu. Setelah dikhianati, hampir saja akan diperkosa jika kau tak datang menolongku saat itu. Aku sungguh bersyukur bahwa telah dipertemukan denganmu. Dan setelah itu, dengan tidak tahu malu, gadis itu malah meneror pria tersebut dengan masuk ke kehidupan pria yang belum lama dikenalnya itu.

 

Cinta memang seperti itu. Datang secara tiba-tiba dalam kehidupan seseorang. Tapi, aku tak akan menyerah sampai kau jatuh cinta padaku, atau kalau tidak, aku ingin melihatmu tersenyum bahagia dengan cinta sejatimu.

 

Saat kau menemukan cinta sejatimu, jangan pernah lepaskan cinta itu. Kejarlah, perjuangkan, hingga kau menyadari apakah cinta itu masih pantas di perjuangkan atau kau harus melepaskannya.

 

Jadi, saat kau belum menemukan cinta sejatimu itu, bolehkan aku mengajukan permintaan? Bisakah kau belajar mencintaiku? Walau hanya sedetik saja tak apa yang penting kau pernah mencintaiku. Tapi, jika kau telah menemukan cinta sejatimu itu, aku juga akan mengajukan permintaan. Permintaanku, jangan pernah kau melupakan atau menghapus aku dalam ingatan dan kehidupanmu. Karena aku tak ingin dilupakan olehmu. Biarlah aku menjadi kenanganmu, masa lalumu, pelajaran dalam kehidupanmu supaya kau tak mengalami seperti yang aku alami dulu.

 

Sepertinya aku terlalu banyak menulis, ya? Pasti kau sangat bosan melihat tulisanku yang berantakan ini. Aku akhiri saja ya.

 

Aiden, aku mohon, kau jangan pernah menyesali kematianku. Aku mohon kau jangan sedih berlarut-larut. Aku mohon kau harus hidup lebih baik tanpaku. Kau harus jaga kesehatanmu. Kau harus lebih banyak tersenyum dan lihatlah sekitarmu. Kau mempunyai keluarga dan sahabat yang sangat setia dan menyayangimu. Kau masih punya aku dalam hatimu. Kau tak pernah sendirian. Kau juga harus menemukan kebahagianmu dan cinta sejatimu.

Selamat tinggal Aiden.

 

Dari kekasih yang selalu mencintaimu,

 

Danie


Keheningan malam terusik oleh suara isakan tangis dari Aiden setelah selesai membaca surat dari Daniella. Menyesal. Penyesalan itu memang selalu ada di akhir, saat kita menyadari bahwa semua sudah terlambat. Aiden pun menyadari itu. Jika saja dia mau membuka hatinya untuk gadis itu, pasti sekarang ini dia tak akan kehilangan gadis itu.

“Danie, maafkan aku karena membuatmu seperti ini. Maaf aku tak bisa membalas cintamu. Tapi, aku berterima kasih kau telah hadir dalam hidupku. Membuatku membuka mata untuk melihat sekelilingku. Aku janji, aku tak akan melupakan dan menghapus sosokmu dalam kehidupanku. Biarkan aku menyimpanmu dalam sebuah kenangan masa lalu yang selalu aku ingat dalam hati dan pikiranku. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku juga akan hidup menjadi lebih baik lagi.”

Keesokan harinya Aiden tampak lebih ceria. Dia berjanji tak akan bersedih lagi karena dia tidak ingin membuat Danie bersedih di alam sana. Perubahan Aiden membuat semua orang heran melihatnya. Namun, mereka tak menampik bahwa mereka lebih senang melihat Aiden ceria atau kalau tidak melihat Aiden emosi daripada harus melihatnya bersedih terus menerus.

Spancer yang sedari tadi berada di ruangan Aiden hanya diam menatap Aiden. Berpikir ada apa dengan sahabatnya ini. Dan tatapannya terhadap Aiden membuat Aiden risih.

“Spancer, sebenarnya ada perlu apa kau di ruanganku? Apa pekerjaanmu sudah beres?”

“Aku mengamatimu. Pekerjaan? Aku sudah menyelesaikannya. Tinggal menunggu balasan dari klien kita.”

“Mengamatiku? Memangnya ada yang salah dengan diriku?”

“Kau aneh.”

“Aneh? Maksudmu sebenarnya apa? Aku tidak paham.”

“Seminggu yang lalu kau tampak murung. Sekarang kau terlihat ceria. Ada apa?”

“Jadi, kau lebih suka melihatku murung?”

“Bukan begitu. Maksudku…”

“Aku hanya tak ingin membuat arwah Danie di alam sana sedih dengan kondisiku yang terus menerus menyalahkan diriku sendiri karena kematiannya. Aku harus menjadi hidupku.”

“Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kau memang harus bangkit dan menjalani kehidupanmu.”

“Maaf, sudah membuatmu cemas, Spancer.”

“Tak apa. Bukankah itu gunanya sahabat?”

“Kau memang sahabat terbaikku.”

“Tentu saja. Aku tak akan rela jika kau mengganti posisiku dengan orang lain.”

“Tidak akan pernah.”

“Baiklah. Aku masih ada urusan. Aku pergi dulu.”

“Hati-hati. Kalau kau kembali lagi, jangan lupa belikan aku makan siang.”

“Jika aku tidak lupa.”

Spancer pun pergi meninggalkan ruang kerja Aiden. Dia memang tidak bohong mengatakan dia masih ada urusan. Kini, dia berada di sebuah pemakaman. Dia berjongkok di salah satu batu nisan, yang tertulis sebuah nama.

Daniella Han

20-05-1989/13-11-2014

“Danie. Aku datang lagi. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau bahagia di alam sana. Kau tahu, hari ini aku akan melaporkan keadaan Aiden padamu. Dia sudah tidak bersedih dan murung lagi. Dia sangat ceria dan bersemangat. Kau jangan mencemaskan dirinya lagi. Danie, aku pergi dulu. Lain kali aku akan datang lagi. Sampai jumpa.”

Spancer pun meninggalkan area pemakaman itu menuju mobil yang sudah menunggunya. Saat dia hendak meraih ganggang pintu mobilnya, dia menengok ke area pemakaman kembali, dan disana, dia melihat sosok Danie tersenyum padanya.

Di dalam mobil, Spancer berdiam diri. Belum mengemudikan mobilnya. Dia menundukkan kepalanya di kemudi mobil. Menangis dan tangannya terlihat meremas selembar kertas.

“Hiks,,,hiks,,, Danie, maafkan aku.”

Selama 15 menit, Spancer masih bertahan dengan posisinya. Isak tangisnya masih terdengar perlahan. Hingga suara dering telepon menghentikan aksinya. Dia mengusap air matanya. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan dia pun menjawab telepon tersebut.

“Halo, Tuan Choi.”

“Halo, Tuan Lee, maaf jika saya baru bisa memberikan jawaban atas proposal yang Anda ajukan beberapa minggu alu.”

“Tidak apa-apa, Tuan Choi. Jadi, bagaimana?”

“Kami menunggu kedatangan Anda sekarang untuk membahas kelanjutan proposal yang Anda ajukan. Perusahaan saya setuju dan bersedia bekerjasama dengan perusahaan Anda.”

“Ini kabar baik. Terima kasih, Tuan Choi.”

“Kalau begitu, saya tunggu kedatangan Anda di kantor saya.”

“Baik. Saya sedang dalam perjalanan menuju kesana.”

Setelah mengakhiri pembicaraan tersebut, Spancer kembali menjadi Spancer yang ceria lagi. Dia pun menyalakan mesin mobilnya dan segera menuju ke kantor, perusahaan Tuan Choi Siwon.

Untuk pria yang sangat mencintaiku, 

Spancer.

 

Saat kau menerima surat ini dan membacanya, itu artinya aku sudah tidak ada disisimu lagi. Maaf kalau aku bersikap pengecut. Tak berani mengutarakan langsung kepadamu. Aku hanya tak sanggup harus meneteskan air mata dihadapanmu. Cukup Aiden saja yang membuatku menangis. Biarkan kau yang membuatku ceria.

 

Terima kasih karena selama ini kau bersedia menerima aku menjadi sahabatmu dan membantuku untuk dekat dengan Aiden. Walau, sebenarnya aku tahu, kau juga mempunyai perasaan kepadaku. Belum pernah aku menemukan seorang pria seperti dirimu. Seharusnya kau berhak mencintai wanita yang lebih baik daripada aku.

 

Berada didekatku, pasti kau selalu merasakan sakit hati karena kedekatanku dengan Aiden. Aku tahu, aku bodoh karena tetap menyakitimu. Kau boleh membenciku. Aku pernah mengatakannya padamu, kan? Tapi, kau tak pernah sekalipun membenciku walau aku terus menerus menyakitimu.

 

Spancer, aku berharap di kehidupan selanjutnya, kau bisa menemukan kebahagiaanmu. Temukan dan cintai wanita yang tulus mencintaimu dan rela berkorban untukmu. Tapi, satu hal,  jangan pernah lupakan aku. Aku tak sanggup jika kau melupakanku. Lebih baik kau membenciku daripada kau melupakanku.

 

Terakhir kalinya, Spancer, aku menyayangimu.

 

Dari wanita yang sangat kau cintai,

Danie

6AwOfLq

Tak berselang lama setelah kepergian Spancer, sebuah mobil AUDI A5 terparkir di halaman area pemakaman. Seorang pria turun dari mobilnya dengan membawa sebuket bunga lily putih. Bunga favorit dari wanita yang dia cintai yang kini sudah hidup tenang di alam sana. Namun, langkahnya terhenti saat dia juga melihat sebuket bunga lily putih lain diletakkan di depan batu nisan kekasihnya. Namun, karena tak ingin berprasangka jelek, dia pun membiarkan saja dan meletakkan sebuket bunga lily putih yang dia bawa diletakkan disebelah buket bunga lily putih lainnya.

buket-yang-paling-indah-tulip-putih

“Danie, aku datang. Bagaimana kabarmu? Aku sudah membaca surat darimu. Surat yang sangat manis. Kau tahu, itu adalah surat cinta pertama yang aku terima sejak aku lulus sekolah. Kau boleh menertawakanku. Sebenarnya, saat sekolah dulu, aku adalah pria terpopuler. Tapi, tak ada yang berani mendekatiku karena dulu aku sangat menyeramkan dan galak. Terima kasih, suratmu akan aku rawat dengan sebaik-baiknya. Begitupun dengan cintamu padaku, akan aku jaga selamanya. Maaf, aku tak bisa berlama-lama disini. Aku harus menemani ibu ke rumah sakit. Jangan khawatir, hanya chek up kesehatan rutin seperti biasa. Lain kali aku akan datang lagi. Sampai jumpa, Danie. Aku mencintaimu.”

Aiden, pria yang baru saja berbincang-bincang dengan Danie, beranjak dari tempatnya, kemudian menuju mobil yang masih terparkir di halaman pemakaman. Namun, saat hendak membuka pintu mobil, Aiden seperti mendengar seseorang berbisik di telinganya dengan pelan.

“Aku juga mencintaimu, Aiden.”

Semilir angin pun mengantar hilangnya suara berbisik itu yang membuat Aiden menoleh ke segela arah hingga akhirnya matanya tertuju pada sesosok wanita cantik yang tersenyum ke arahnya. Aiden pun membalas tersenyum.

Dalam hidup akan selalu ada yang datang dan yang pergi. Dan akan ada seseorang yang membawamu ke masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Seseorang yang pergi membawamu pada kenangan. Entah itu kenangan pahit, sedih, atau manis. Namun, satu hal yang tak boleh dilakukan adalah melupakan. Karena melupakan sesuatu hanya akan menyakiti diri kita sendiri. Kau yang tak akan pernah kembali lagi. Namun, kau akan selalu abadi dalam hati dan pikiranku.

END

Coretan Tanganku

Selamat Ulang Tahun

Halo, Halo, Halo,

Maaf ya, untuk kesekian kalinya saya kembali amnesia. Tanggal 6 Februari kembali saya lupakan. Saya benar-benar lupa kalau blog saya “Aku dan Duniaku” telah berusia 6 tahun. Yeeeee!!! Selamat ya.

Blogku, saya minta maaf karena belum bisa meramaikan kamu lagi. Kesibukan kembali menghampiri saya dan saya sedang buntu ide untuk menuangkan sesuatu disini.

Tapi, kalau ide sudah bermunculan, secepatnya akan aku publishkan disini. Dan duniamu menjadi lebih ramai dan berwarna.

Oia, untuk tahun ini, semoga kamu akan selalu menjadi dunia bagiku disaat saya merasa senang, sedih, kecewa, dan lain sebagainya. Saya juga berharap apa yang saya tuliskan disini, di duniamu, bisa menjadi inspirasi bagi semua orang dan bermanfaat bagi yang sudah singgah dan mau membaca tulisan-tulisan saya disini.

Saya berharap disini menjadi sebuah awal yang manis dalam mencapai mimpi-mimpiku. Semoga kamu masih menjadi tempat rahasia bagiku untuk menceritakan tentang dirinya. Semoga semua harapanku bisa terkabul. Amin.

Sekian dan terima kasih.

cake with six candles happy_anniversary_6th_mug-rc52b18c0f8db48f7907b5a758a8eda9b_x7j1o_8byvr_324

Fanfiction

Tonight (Short Version)

999321_405375332912283_98278749_n

Title : Tonight | Main Cast : Han Yesha (OC), Lee DonghaeGenre : Sad – Angst

Note : Sebelumnya, aku mau mengucapkan terima kasih untuk artworker yang sudah membuatkan cover ini. Dan aku minta maaf untuk artworker karena aku lupa siapa yang sudah membuat cover ini. Ini adalah cover fanfiction yang sudah lama dan baru terpikirkan beberapa hari yang lalu untuk menyelesaikan ceritanya yang secara tak sengaja baru menemukan ide untuk cerita tersebut setelah mendengarkan lagu dari grup band Indonesia, SO7 yang berjudul Sephia. Jadi, pembaca mungkin sudah bisa menebak bagaimana isi ceritanya. Karena terkesan mendadak jadi isi ceritanya mungkin sedikit mengecewakan. Dan, cerita ini juga aku anggap sebagai cerita akhir tahunku.


Tuhan menganugerahkan cinta kepada semua manusia. Cinta adalah sesuatu yang sangat indah. Cinta ditujukan kepada siapa saja. Tak mengenal batasan. Begitu juga dengan cinta antara pria dan wanita. Dan Yesha pun tak bisa mengelak jika cinta datang menghampirinya. Cinta mendatangkan kebahagiaan. Tapi, bagi Yesha, cinta juga mendatangkan kesedihan. Yesha tak menyalahkan cinta. Tetapi, waktu dan penerima cinta itu yang membuatnya merasa bersalah.

Sejak perkenalannya dengan Donghae, tiga bulan yang lalu, membuat hubungan antara mereka -Donghae dan Yesha- menjadi lebih intim. Bukan lagi hubungan antar teman. Bisa dikatakan hubungan itu menjadi sebuah hubungan pribadi antara seorang pria dan wanita. Awal kedekatan mereka itulah yang membuat mereka menjadi lebih akrab. Dan hal itu tidak bisa menapik perasaan mereka satu sama lain yang menumbuhkan suatu perasaan cinta.

Tidak ada yang salah jika mereka jatuh cinta. Tidak ada yang melarang jika mereka selalu bersama-sama. Tidak ada yang salah jika Yesha menjadi tertarik pada Donghae. Tapi, yang menjadi masalah adalah jika mereka semakin jauh dalam melanjutkan hubungan tersebut. Salah satu dari mereka harus membuang perasaan cinta itu.

Jika status keduanya adalah tidak sedang mempunyai pasangan, tidak masalah. Tapi, bagaimana jika yang terjadi adalah Donghae sudah menikah? Kenyataannya, Donghae sudah menikah dengan seorang wanita yang telah dijodohkan oleh keluarganya. Usia pernikahan mereka sudah menginjak 2 tahun.

Hal itulah yang membuat Yesha resah. Dari awal, dirinya tahu bahwa tidak seharusnya dia mempunyai perasaan itu kepada Donghae. Tapi, apa yang bisa Yesha perbuat jika Tuhan memberikan perasaan itu pada Yesha. Sekuat apapun Yesha menolak kehadirannya, cinta tetap datang menghampirinya. Yesha sadar hubungan mereka tak bisa dilanjutkan karena hanya membuat mereka semakin tersakiti. Yesha tak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain. Yesha juga seorang wanita, dia tahu bagaimana jika dia berada di posisi sebaliknya.

Mau tak mau, suka tak suka, perasaannya kepada Donghae harus dia hilangkan. Dia juga harus membicarakan semua permasalahan ini kepada Donghae dan harus segera mengakhirinya. Agar tidak timbul masalah di kemudian hari. Yesha juga sadar bahwa mereka tak bisa bersatu dan kisah cinta mereka pun tak akan pernah bisa abadi selamanya.

~**~

Saat semua orang tengah berbahagia menunggu datangnya tahun baru, seorang gadis yang berada di salah satu kamar hotel berbintang lima berdiri di balik kaca ruangan tersebut sambil melihat pemandangan malam. Dengan handphone yang dia pegang seolah tak sabar menunggu telepon dari seseorang yang sangat dia rindukan.

Sebelumnya, dia sudah mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang itu -Donghae- untuk menemuinya hotel berbintang, tempat dimana dia berada sekarang. Tapi, orang yang dia tunggu tak kunjung datang. Yesha berusaha setenang mungkin menunggu kabar dari Donghae, walau sebenarnya dia sangat cemas jika Donghae tak menemuinya.

Yesha ingin sekali menegaskan hubungan mereka setelah sebelumnya, Donghae sudah bergerak lebih cepat darinya. Donghae telah menegaskan pada Yesha untuk tidak menghubunginya lagi dan jangan pernah menemuinya lagi karena Donghae akan melupakannya. Dia tak ingin menyakiti perasaan istrinya. Ya, itu juga yang ingin Yesha sampaikan pada Donghae. Tapi, satu kesalahan Donghae, bahwa, dia tak memikirkan perasaan Yesha juga yang nyatanya juga mencintainya.

Memikirkan semua itu membuat Yesha menangis dalam diam. Sekarang, siapa yang salah jika mereka di hadapkan pada situasi seperti ini. Donghae maupun Yesha sebenarnya tidak ingin berada di situasi ini. Tapi, takdirlah yang membuat mereka harus bertemu dan saling mencintai dengan kondisi yang salah.

Saat masih sibuk dengan pikirannya sendiri, handphone Yesha bergetar, menandakan sebuah pesan baru saja masuk. Dengan segera Yesha membuka pesan tersebut yang ternyata dari Donghae. Melihat nama Donghae tertera di layar handphone-nya membuatnya tersenyum. Namun, senyum itu segera hilang karena isi dari pesan itu yang membuatnya menjadi sedih.

To: Yesha

Yesha, maafkan aku. Dari awal, tidak seharusnya kita menjalin hubungan ini. Aku bersalah padamu, tidak seharusnya kau mencintaiku. Dan, kini aku malah menyakitimu. Membuatmu menangis karena kau mencintaiku. Kau adalah wanita yang baik yang harusnya mendapatkan pria yang baik juga, bukan aku. Jika kita memaksakan perasaan kita, hanya akan membuat masing-masing dari kita tersakiti. Aku mohon lupakan aku. Setelah malam ini, jika suatu saat kita bertemu lagi anggaplah kita tak saling mengenal. Kisah antara kita tak akan pernah abadi. Maaf aku tak bisa menemuimu. Aku harus menemani istriku, dia sedang sakit. Dia membutuhkan aku. Aku harap kau segera bisa melupakanku. 

Untuk terakhir kalinya, aku ingin mengatakan kepadamu. Aku mencintaimu, Yesha. Selamat malam. Selamat tinggal. Semoga kau hidup lebih baik dan bahagia. 

Pesan dari Donghae itu, mau tak mau membuat Yesha kembali terisak. Menangis dalam diam. Dia ingin sekali bisa bertemu dengan Donghae untuk terakhir kalinya. Namun, takdir tak mengijinkannya bertemu. Lalu, Yesha pun memutuskan mengirimkan sebuah pesan untuk Donghae sebagai balasannya.

To: Donghae

Donghae, sebenarnya aku ingin sekali kita bisa bertemu untuk terakhir kalinya. Aku sangat merindukanmu. Tapi, mau bagaimana lagi jika ternyata ada orang lain yang lebih membutuhkanmu daripada aku. 

Aku tahu sejak awal kita memang tidak seharusnya saling mencintai. Tuhan tak mengijinkan kita bersama bukan? Tapi, Tuhan malah membuat kita saling mencintai. Aku tak tahu alasannya. Tapi, aku tak pernah menyesali pertemuanku denganmu. Aku juga tak menyesali karena sudah mencintaimu. Walau aku tak bisa memilikimu seutuhnya. 

Seperti katamu, aku akan mencoba melupakanmu. Aku akan berusaha walau aku tak tahu apakah itu bisa atau tidak. 

Aku juga mencintaimu, Donghae. Aku doakan semoga kau bahagia dengan keluargamu. Aku harap kau juga bisa melupakan aku. Selamat tinggal. 

Saat kau menerima pesan ini, aku sudah tak berada lagi disini. Aku telah pergi jauh dari kehidupanmu untuk selama-lamanya.

Setelah mengirimkan pesan itu untuk Donghae, Yesha pun bergegas meninggalkan hotel tersebut. Entah kemana Yesha akan pergi, hanya Yesha yang tahu. Yesha hanya perlu berjalan, berjalan, dan terus berjalan. Melupakan semua kenangan di tahun lalu. Kemudian, bangkit, melangkah, dan menuliskan kembali kenangan baru di tahun yang akan datang.

Selamat tinggal masa lalu, selamat datang masa depan.